PARIWISATA

OPINI

TRADISI

Latest Updates

Manifestasi Cahaya Kalambe : Ritual Patoba dan Eksistensi Identitas Perempuan Buton di Maluku

2:41 PM

Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, sebuah tradisi agung tetap berdiri kokoh sebagai benteng moral dan identitas. Masyarakat keturunan Buton yang telah lama menetap di tanah rantau khususnya Maluku, kembali membuktikan kesetiaan mereka pada leluhur melalui penyelenggaraan Patoba, sebuah ritus transisi sakral bagi gadis remaja (Kabuabua) menuju gerbang kedewasaan (Kalambe).

Hartati mengenakan baju adat Buton
Hartati mengenakan baju adat Buton (Diaspora Maluku), Gadis Dusun Batu Lubang - Huamual


Meskipun telah lama merantau dan beradaptasi dengan lingkungan baru, masyarakat Buton tidak sedikit pun melupakan akar budaya mereka. Patoba tetap dijunjung tinggi sebagai proses "pengeraman" jiwa dan raga untuk melahirkan sosok perempuan yang paripurna.


Memahami Esensi: Bakurung, Pingitan, dan Patoba

Meskipun sering dianggap sama dalam cakupan umum, terdapat kedalaman makna yang berbeda dalam setiap tahapannya yang dijalankan secara konsisten di tanah rantau:

 * Bakurung: Merupakan proses fisik di mana sang gadis "mengurung diri" di dalam ruangan khusus untuk membatasi interaksi dengan dunia luar.

 * Pingitan: Istilah nasional yang merujuk pada masa isolasi sebelum seorang perempuan memikul tanggung jawab sosial yang lebih besar.

 * Patoba: Puncak spiritual dari ritual ini, yakni prosesi penyucian batin dan pemberian wejangan (nasihat) oleh sesepuh adat mengenai adab, kehormatan, kemandirian serta religius. 


Laku Prihatin dalam Kamar Suci

Sesuai dengan pakem adat, masa kurungan ini bukanlah waktu yang singkat. Tergantung pada kesiapan keluarga dan tuntunan adat, seorang gadis diwajibkan berdiam diri selama kurun waktu tertentu: 3 hari 3 malam, 7 hari, hingga yang paling sakral, 40 hari 40 malam.

Selama masa ini, sang gadis dilarang keluar kamar dan hanya fokus pada perawatan diri menggunakan racikan rahasia alam:

 * Lulur Kunyit dan Beras: Campuran beras tumbuk dan kunyit segar dioleskan ke seluruh tubuh. Kunyit melambangkan kemurnian, sementara beras adalah simbol kemakmuran dan kesuburan.

 * Daun Pemerah (Henna): Penggunaan daun pemerah atau henna pada kuku bukan sekadar hiasan, melainkan simbol visual bahwa sang gadis telah "berbunga" dan siap menyongsong fase hidup baru.


Puncak Perayaan: Lahirnya Sang Cahaya

Saat masa pingitan berakhir, suasana sunyi di tanah rantau berganti menjadi gemuruh sukacita. Keluarga besar menyambut sang Kalambe yang tampil "pangling" dengan aura kecantikan yang keluar dan bersinar terang—hasil dari refleksi diri dan doa selama di dalam kurungan.

Dalam balutan busana adat daerah leluhur yang megah, sang Kalambe menari dengan gemulai. Meski sebagian keluarga di tanah rantau telah memodifikasi iringan tari dengan musik modern, esensi kesakralannya tetap terjaga. Senyum bahagia terpancar dari wajah sang gadis yang kini telah resmi menyandang status sebagai perempuan dewasa yang bermartabat.

Sabrina dan Wa Suji


Pesan Moral di Tanah Rantau

Pelaksanaan Patoba menegaskan bahwa meskipun terpisah jarak yang jauh dari tanah asal, masyarakat Buton tidak pernah kehilangan jati diri. Patoba tetap menjadi mekanisme kontrol sosial sekaligus penghormatan tertinggi terhadap martabat perempuan.

Bakurung adalah proses 'menanam' benih kebaikan. Saat ia keluar kamar, ia bukan lagi anak-anak. Auranya bersinar, wajahnya cerah, dan ia siap menjadi perempuan Buton yang menjunjung tinggi moralitas di mana pun kakinya berpijak.



#DiasporaOrangButon
#Patoba
#tahuribabunyi

Orang Maluku Tidak Seperti yang Anda Kira

11:00 AM

Setiap kali seseorang menyebut “orang Maluku”, sering kali yang muncul bukan wajah manusia—melainkan prasangka.

“Keras.”
“Seram.”
“Mukanya seperti preman.”
“Dari daerah konflik, ya?”

Bagi sebagian orang Maluku yang merantau ke Jawa atau kota-kota besar lainnya, kalimat seperti itu bukan cerita asing. Ia hadir dalam bentuk candaan. Dalam tatapan curiga. Dalam pertanyaan yang terdengar biasa, tetapi menyimpan asumsi.

Dan rasisme tidak selalu datang dengan teriakan.
Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.

Orang Ambon
Img Source : Orang Ambon #PernahNggaPernah by Cretivox Youtube Channel


#1 “Mukanya Keras”

Banyak orang Maluku tumbuh dengan pengalaman dinilai dari fisiknya terlebih dahulu.

Kulit lebih gelap.
Rahang tegas.
Rambut keriting.
Postur atletis.

Tidak jarang muncul komentar:
“Kok mukanya sangar banget?”
“Serem ya kalau lagi diam.”

Seolah-olah struktur wajah bisa menjadi indikator moral.

Padahal apa yang disebut “muka keras” sering kali hanyalah perbedaan ekspresi budaya. Orang Maluku terbiasa berbicara lugas. Gesturnya hidup. Tatapannya langsung. Itu bukan ancaman. Itu karakter.

Namun dalam ruang sosial yang standar budayanya tersentralisasi, perbedaan mudah diterjemahkan sebagai potensi bahaya.


#2 “Oh, dari Maluku? Daerah Konflik Itu?”

Ada juga pengalaman lain yang lebih halus, tetapi sama menyakitkannya.

Saat menyebut asal daerah, respons yang muncul bukan rasa ingin tahu, melainkan pengaitan dengan konflik masa lalu.

“Di sana masih aman, kan?”
“Masih sering ribut?”

Seolah-olah Maluku berhenti berkembang setelah tragedi akhir 1990-an.

Padahal generasi yang lahir setelah konflik itu kini sudah dewasa. Mereka kuliah, bekerja, membangun usaha, menciptakan karya. Tetapi memori nasional sering kali tertinggal dua dekade di belakang.

Maluku tidak lahir pada tahun 1999.
Dan identitas sebuah masyarakat tidak bisa dikunci oleh satu bab sejarah.


#3 Stereotipe tentang Pendidikan

Ada pula asumsi lain yang lebih struktural:
bahwa daerah timur otomatis tertinggal secara intelektual.

Beberapa orang Maluku yang merantau mengaku pernah diperlakukan dengan nada meremehkan ketika berbicara tentang pendidikan atau kompetensi.

“Wah, pintar juga ya.”
“Kirain di sana sekolahnya masih susah.”

Kalimat yang terdengar ringan, tetapi menyiratkan ekspektasi rendah.

Padahal banyak akademisi, perwira militer, profesional, musisi, peneliti, dan pengusaha berasal dari Maluku. Akses pendidikan memang tidak selalu merata—sebagaimana banyak daerah lain di Indonesia—tetapi mereduksi kapasitas intelektual sebuah masyarakat adalah bentuk ketidakadilan berpikir.


#4 Rasisme yang Tidak Diakui

Masalahnya, rasisme terhadap orang timur sering tidak diakui sebagai rasisme.

Ia dibungkus sebagai candaan.
Disebut “hanya bercanda”.
Dianggap terlalu sensitif jika dipermasalahkan.

Namun bayangkan jika sepanjang hidup Anda terus-menerus diasosiasikan dengan kekerasan, konflik, atau keterbelakangan—hanya karena asal daerah dan ciri fisik.

Itu bukan lagi sekadar candaan.
Itu pembentukan opini kolektif.


#5 Masalahnya Bukan Perbedaan, Tapi Cara Kita Melihat

Indonesia adalah negara yang sangat beragam secara fisik dan budaya. Perbedaan seharusnya menjadi kekayaan, bukan alasan untuk mencurigai.

Jika orang Maluku berbicara tegas, itu budaya komunikasi.
Jika posturnya kuat, itu genetika dan lingkungan.
Jika kulitnya gelap, itu bagian dari keberagaman Nusantara.

Yang perlu dipertanyakan bukan penampilan atau asal daerahnya.

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kita begitu cepat menilai.


#6 Maluku Tidak Butuh Dikoreksi

Maluku tidak sedang meminta belas kasihan.
Tidak juga menuntut perlakuan istimewa.

Yang dibutuhkan hanyalah keadilan dalam cara dipandang.

Generasi muda Maluku hari ini hadir di kampus-kampus besar, di perusahaan nasional, di ruang-ruang kreatif digital. Mereka bekerja lebih keras bukan hanya untuk sukses, tetapi sering kali untuk membuktikan bahwa stereotipe itu salah.

Dan itu melelahkan.

Bayangkan jika energi itu bisa sepenuhnya digunakan untuk berkarya, bukan untuk membantah prasangka.


#7 Jika Kita Serius Soal Keberagaman

Keberagaman bukan diuji saat kita menyanyikan lagu daerah.
Ia diuji saat kita berinteraksi dengan orang yang berbeda dari kita.

Selama kita masih nyaman mengatakan “ah, cuma bercanda”,
selama itu pula kita belum benar-benar dewasa sebagai bangsa.

Orang Maluku tidak seperti yang Anda kira.

Dan mungkin, yang perlu diubah bukan karakter mereka—
melainkan cara kita membentuk persepsi.


#8 Quotes
Rasisme tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.



#Stereotipe
#Maluku
#tahuribabunyi 

 

90% Mirip Pintu Kota : Tanjung Batu Lubang Luhu – Huamual

11:00 AM
Kalau kamu merasa Pintu Kota Ambon sudah terlalu sering muncul di feed Instagram, mungkin sudah waktunya cari versi yang lebih sepi, lebih alami, dan lebih “rasa petualangan”.

Kenalin, Tanjung Dusun Batu Lubang, Negeri Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.


Batu Lubang | Luhu - Huamual

Tempat ini sering disebut sebagai versi mini Pintu Kota Ambon. Kenapa? Karena di beberapa sudutnya, formasi bebatuan yang berdiri gagah di tepi laut sekilas memang mirip dengan ikon wisata kebanggaan Ambon itu. Bedanya, di sini suasananya masih sangat natural. Belum terlalu ramai, belum terlalu komersial, dan justru itu yang bikin jatuh cinta.

Begitu tiba di lokasi, mata langsung dimanjakan hamparan laut biru yang luas membentang. Airnya jernih, anginnya segar, dan suara ombaknya seperti terapi alami yang bikin kepala terasa ringan. Cocok banget buat kamu yang lagi penat sama rutinitas atau sekadar ingin kabur sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Walaupun belum seterkenal Pintu Kota, siapa pun yang datang pasti akan mendapat kesan tersendiri. Rasanya seperti menemukan surga kecil masih tersembunyi yang belum banyak orang tahu.

Di Tanjung Batu Lubang, kamu nggak cuma datang untuk foto-foto. Banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan. Buat yang hobi memancing, area ini cukup ideal untuk melempar kail sambil menikmati suasana laut terbuka. Bayangkan duduk santai di atas batu, memancing ikan dengan latar laut biru tanpa batas.


Mancing di atas Tanjung Batu Lubang

Kalau haus? Tenang saja. Kamu bisa menikmati kelapa muda segar dari tanaman milik warga sekitar. Sensasi minum kelapa langsung di tepi pantai dengan angin laut yang menyapu wajah — sederhana tapi luar biasa nikmat.

Buat pecinta laut, snorkeling juga bisa jadi pilihan. Kejernihan airnya memungkinkan kamu melihat keindahan bawah laut yang masih alami. Atau kalau ingin santai saja, berenang biasa pun sudah cukup membuat hati senang.


Landscape Tanjung Batu Lubang

Lalu bagaimana cara menuju ke sana ?

Kalau kamu berada di Kota Ambon, perjalanannya cukup mudah dan justru menjadi bagian paling menyenangkan dari pengalaman ini. Dari Terminal Ambon–Hila, kamu bisa naik angkot menuju Pelabuhan Tahoku di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 40–50 menit dengan biaya Rp20.000 per orang.

Setelah tiba di Pelabuhan Tahoku, perjalanan dilanjutkan dengan speed boat menuju Dusun Batu Lubang. Waktu tempuhnya sekitar 90 menit dengan biaya Rp70.000 per orang. Dengan total biaya yang relatif terjangkau, kamu sudah bisa menikmati salah satu spot wisata yang masih asri di Seram Barat.

Menariknya, perjalanan laut menuju Batu Lubang bukan sekadar perpindahan tempat. Sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhi pemandangan laut biru, Desa-desa terpencil di Huamual yang tampak dari kejauhan, serta hembusan angin laut yang menyegarkan. Kadang justru momen di atas speed boat inilah yang membuat perjalanan terasa seperti petualangan sungguhan.

Tidak hanya itu, kamu juga akan melewati Tanjung Sial yang konon katanya ada legenda sepasang buaya putih.


Tanjung Sial - Huamual

Tanjung Batu Lubang adalah destinasi yang cocok untuk kamu yang menyukai keindahan alam tanpa keramaian berlebihan. Tempat ini menawarkan ketenangan, panorama unik, serta pengalaman yang berbeda dari wisata mainstream. Kalau kamu sedang menyusun daftar destinasi berikutnya di Maluku, mungkin ini saatnya memasukkan Tanjung Batu Lubang Luhu ke dalam bucket list. Siapa tahu, sebelum tempat ini benar-benar viral, kamu sudah lebih dulu menikmati keindahannya.





#Luhu
#Huamual
#BatuLubang
#tahuribabunyi

Video Asusila Viral di Ambon: Ketika Pendidikan dan Hukum Gagal, Generasi Penerus Jadi Korban

11:10 PM

Kasus video asusila yang viral di Ambon bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah alarm keras bahwa pendidikan karakter, penegakan hukum, dan literasi digital di daerah ini sedang tidak baik-baik saja. Lebih berbahaya lagi, konten semacam ini berpotensi merusak mental generasi muda yang seharusnya tumbuh cerdas, kreatif, dan berbudaya.

Video Asusila Viral di Ambon


Masalahnya bukan siapa pelakunya, melainkan apa dampaknya dan mengapa sistem membiarkannya berulang.


Viral Asusila: Ancaman Nyata bagi Mental Anak dan Remaja

Di era media sosial, video asusila bukan lagi konsumsi terbatas orang dewasa. Sekali viral, konten tersebut bisa:

  • muncul di ponsel anak sekolah,

  • beredar di grup WhatsApp keluarga,

  • dan dikonsumsi tanpa kontrol.

Paparan berulang terhadap konten seksual menyimpang dapat membentuk candu visual, mengaburkan batas normal–tidak normal, dan merusak cara generasi muda memandang relasi manusia. Ini bukan opini emosional, tetapi fakta psikologis yang sudah lama diperingatkan para ahli.

Jika dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang:

  • kehilangan orientasi nilai,

  • lebih mengenal sensasi daripada prestasi,

  • dan menukar kreativitas dengan konsumsi konten menyimpang.


Pendidikan Gagal Jadi Benteng Moral

Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar nilai dan kelulusan, tetapi lupa membangun karakter, etika digital, dan kontrol diri. Anak-anak dibiarkan belajar tentang seks, relasi, dan tubuh manusia dari algoritma media sosial—bukan dari pendampingan orang tua, sekolah, dan lingkungan.

Ketika pendidikan gagal hadir secara utuh, maka jangan heran jika generasi muda lebih cepat meniru apa yang viral daripada memahami mana yang patut dan mana yang merusak.


Lemahnya Penegakan Hukum: Penyimpangan Jadi Hiburan

Lebih ironis lagi, penyebaran konten asusila sering kali tidak diikuti penegakan hukum yang tegas. Akibatnya:

  • pelaku tidak jera,

  • penyebar merasa aman,

  • penonton merasa wajar.

Hukum yang lemah mengirim pesan berbahaya:
selama viral, semua bisa dimaafkan.

Padahal hukum seharusnya berdiri sebagai pelindung masyarakat, terutama anak di bawah umur yang paling rentan terdampak secara mental dan psikologis.


Budaya Orang Maluku: Didikan Hilang, Penghakiman Merajalela

Orang Maluku dikenal dengan budaya didikan, rasa malu, dan hidup orang basudara. Sayangnya, nilai ini justru hilang saat kasus viral muncul. Yang terjadi bukan refleksi, melainkan hujatan massal.

Banyak orang dengan mudah mencaci pelaku di media sosial, seolah-olah mereka sendiri tanpa dosa, tanpa cela, dan tanpa kesalahan. Ini adalah kemunafikan sosial yang berbahaya.

Menghujat bukan mendidik.
Mempermalukan bukan menyelesaikan masalah.

Budaya Maluku tidak mengajarkan persekusi digital, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membenahi.


Salah Arah: Mengutuk Pelaku, Mengabaikan Sistem

Fokus berlebihan pada pelaku justru membuat kita lupa pada akar masalah:

  • pendidikan karakter yang rapuh,

  • pengawasan digital yang lemah,

  • hukum yang tidak konsisten,

  • dan budaya viral yang haus sensasi.

Jika semua energi habis untuk menghujat, maka kasus serupa akan terus berulang, dan generasi penerus tetap menjadi korban diam-diam.


Kesimpulan: Ambon Harus Berhenti Menormalisasi Kerusakan

Video asusila viral bukan hiburan, bukan gosip, dan bukan bahan ejekan. Ini adalah ancaman serius bagi masa depan generasi Maluku. Jika pendidikan dan hukum terus gagal berjalan seiring, maka kecerdasan dan kreativitas anak-anak Ambon akan terkikis oleh candu penyimpangan digital.

Sudah waktunya masyarakat berhenti berpura-pura suci dan mulai bersikap dewasa:

  • mendidik, bukan menghakimi;

  • menegakkan hukum, bukan membiarkan;

  • melindungi generasi muda, bukan menormalisasi kerusakan.

Karena jika hari ini kita diam, besok yang rusak bukan hanya moral—tetapi masa depan Maluku itu sendiri.


#LiterasiAsusila
#PendidikanKarakter
#tahuribabunyi

 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes