Kasus video asusila yang viral di Ambon bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah alarm keras bahwa pendidikan karakter, penegakan hukum, dan literasi digital di daerah ini sedang tidak baik-baik saja. Lebih berbahaya lagi, konten semacam ini berpotensi merusak mental generasi muda yang seharusnya tumbuh cerdas, kreatif, dan berbudaya.
Masalahnya bukan siapa pelakunya, melainkan apa dampaknya dan mengapa sistem membiarkannya berulang.
Viral Asusila: Ancaman Nyata bagi Mental Anak dan Remaja
Di era media sosial, video asusila bukan lagi konsumsi terbatas orang dewasa. Sekali viral, konten tersebut bisa:
-
muncul di ponsel anak sekolah,
-
beredar di grup WhatsApp keluarga,
-
dan dikonsumsi tanpa kontrol.
Paparan berulang terhadap konten seksual menyimpang dapat membentuk candu visual, mengaburkan batas normal–tidak normal, dan merusak cara generasi muda memandang relasi manusia. Ini bukan opini emosional, tetapi fakta psikologis yang sudah lama diperingatkan para ahli.
Jika dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang:
-
kehilangan orientasi nilai,
-
lebih mengenal sensasi daripada prestasi,
-
dan menukar kreativitas dengan konsumsi konten menyimpang.
Pendidikan Gagal Jadi Benteng Moral
Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar nilai dan kelulusan, tetapi lupa membangun karakter, etika digital, dan kontrol diri. Anak-anak dibiarkan belajar tentang seks, relasi, dan tubuh manusia dari algoritma media sosial—bukan dari pendampingan orang tua, sekolah, dan lingkungan.
Ketika pendidikan gagal hadir secara utuh, maka jangan heran jika generasi muda lebih cepat meniru apa yang viral daripada memahami mana yang patut dan mana yang merusak.
Lemahnya Penegakan Hukum: Penyimpangan Jadi Hiburan
Lebih ironis lagi, penyebaran konten asusila sering kali tidak diikuti penegakan hukum yang tegas. Akibatnya:
-
pelaku tidak jera,
-
penyebar merasa aman,
-
penonton merasa wajar.
Hukum yang lemah mengirim pesan berbahaya:
selama viral, semua bisa dimaafkan.
Padahal hukum seharusnya berdiri sebagai pelindung masyarakat, terutama anak di bawah umur yang paling rentan terdampak secara mental dan psikologis.
Budaya Orang Maluku: Didikan Hilang, Penghakiman Merajalela
Orang Maluku dikenal dengan budaya didikan, rasa malu, dan hidup orang basudara. Sayangnya, nilai ini justru hilang saat kasus viral muncul. Yang terjadi bukan refleksi, melainkan hujatan massal.
Banyak orang dengan mudah mencaci pelaku di media sosial, seolah-olah mereka sendiri tanpa dosa, tanpa cela, dan tanpa kesalahan. Ini adalah kemunafikan sosial yang berbahaya.
Menghujat bukan mendidik.
Mempermalukan bukan menyelesaikan masalah.
Budaya Maluku tidak mengajarkan persekusi digital, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membenahi.
Salah Arah: Mengutuk Pelaku, Mengabaikan Sistem
Fokus berlebihan pada pelaku justru membuat kita lupa pada akar masalah:
-
pendidikan karakter yang rapuh,
-
pengawasan digital yang lemah,
-
hukum yang tidak konsisten,
-
dan budaya viral yang haus sensasi.
Jika semua energi habis untuk menghujat, maka kasus serupa akan terus berulang, dan generasi penerus tetap menjadi korban diam-diam.
Kesimpulan: Ambon Harus Berhenti Menormalisasi Kerusakan
Video asusila viral bukan hiburan, bukan gosip, dan bukan bahan ejekan. Ini adalah ancaman serius bagi masa depan generasi Maluku. Jika pendidikan dan hukum terus gagal berjalan seiring, maka kecerdasan dan kreativitas anak-anak Ambon akan terkikis oleh candu penyimpangan digital.
Sudah waktunya masyarakat berhenti berpura-pura suci dan mulai bersikap dewasa:
-
mendidik, bukan menghakimi;
-
menegakkan hukum, bukan membiarkan;
-
melindungi generasi muda, bukan menormalisasi kerusakan.
Karena jika hari ini kita diam, besok yang rusak bukan hanya moral—tetapi masa depan Maluku itu sendiri.
#LiterasiAsusila
#PendidikanKarakter
#tahuribabunyi



